Semua Setara Pentingnya

Semua Setara Pentingnya

Kesetraan adalah cita-cita berharga yang di perjuangkan demi hokum dan hak asasi manusia. Namun, di dunia nyata tidak pernah ada hasil yang persis sama. Tidak peduli betapa adil para juri-dua kontestan tidak pernah sama. Tidak peduli betapa banyak orang yang berbakat-tidak pernah ada dua orang yang sama. Satu ketip sama dengan sepuluh send an semua orang harus di perlukan secara adil, tetapi di dunia prestasi tidak ada yang setara pentingnya.

Kesetaraan adalah kebohongan. Memahaminya merupakan dasar semua keputusan besar. Lalu, bagaimana Anda memutuskan? Ketika Anda mempunyai banyak hal yang harus di selesaikan dalam sehari, bagaimana Anda memutuskan mana yang harus di dahulukan? Sewaktu kita masih kanak-kanak, kita mesti mengerjakan kewajiban kita ketika jamnya tiba. Ini jam sarapan. Ini jam berangkat ke sekolah, jam mengerjakan pekerjaan rumah, jam membantu membereskan rumah, jam mandi, jam tidur. Kemudian, ketika usia kita bertambah, kita di beri sedikit keleluasaan. Kamu boleh pergi bermain asalkan pekerjaan rumah telah di selesaikan sebelum santap malam. Belakangan sewaktu kita menjadi dewasa, segala sesuatu di serahkan ke kepada kita. Semuanya menjadi pilihan kita. Dan ketika hidup kita di tentukan oleh pilihan-pilihan sendiri, pertanyaan yang maha penting menjadi, Bagaimana kita membuat pilihan-pilihan yang bagus?

Yang membuat rumit, makin bertambah usia kita, rasanya makin banyak tumoukan pekerjaan yang kita yakini “harus di tuntaskan”. Terlalu banyak pesanan, terlalu banyak beban, dan terlalu banyak komitmen. “Serba kebanyakan menjadi kondisi yang umum bagi kita semua.

Itulah yang terjadi ketika pertarungan meperebutkan hak untuk di prioritaskan menjadi ganas dan mengerikan. Tanpa rumus yang jelas untuk pengambilan keputusan, kita menjadi reaktif dan tergelincir ke cara-cara yang lazim dan nyaman dalam memutuskan yang harus di kerjakan. Akibatnya, kita secara sembarangan memilih pendekatan-pendekatan yang menggerogoti  kesuksesan kita. Dalam kegopohan menghadapi  keseharian kita seperti tokoh bingung dalam sebuah film horror, alih-alih ke pintu ke luar kita malahan naik ke loteng. Keputusan terbaik di pertukarkan dengan keputusan apa pun, dan yang seharusnya mendatangkan dengan keputusan apa pun, dan yang seharusnya mendatangkan kemajuan malah menjadi jebakan.

Tinggalkan komentar