Kajian Ulama Nusantara Yang Sudah Mendunia

Peta kajian Islam Nusantara di bidang pengembangan kitab yang saling sambung menyambung dan membentuk gugusan fiqh madzhab Syafi’i di Nusantara secara ringkas bisa dipetakan sebagai berikut: Sirath al-Mustaqim nya Syekh Nuruddin Arraniri yang berbahasa Melayu klasik, lalu dilanjutkan dengan Mir-at At-Thullabnya Syekh Abdurrauf As-Singkili dengan bahasa yang sama, kemudian dikembangkan oleh Syekh Faqih Jalaluddin Al-Asyi dengan Umdat al-Ahkam.

Generasi berikutnya, Syekh Arsyad Al-Banjari, melengkapinya dengan Sabil al-Muhtadin, kemudian prakarsa ini dilanjutkan oleh Syekh Dawud Fatthani dengan Sullamul Mubtadi’ yang berbahasa Melayu.

Kemudian tumbuh kajian serupa yang diprakarsai ulama Jawa: Syekh Nawawi al-Bantani dengan Nihayatuz Zain yang berbahasa Arab, dan Syekh Sholeh Darat dengan Majmuah As-Syariah yang berbahasa Jawa, serta Syekh Mukhtar bin Atharid Al-Bughury melalui Kifayat al-Mubtadiin yang berbahasa Sunda, dan seterusnya.

Kajian Ulama Nusantara Yang Sudah Mendunia

Jika dikembangkan lagi ini sangat menarik, sebab generasi ulama pasca Syekh Nawawi al-Bantani menunjukkan watak solidaritasnya dengan membentuk poros-poros organisasi ahlussunah wal jamaah di era pergerakan. Mereka bergerak bukan lagi pada aspek wacana keilmuan yang menjadikan mereka penyambung lidah ulama salaf, melainkan juga menjadi jembatan masa depan karena mereka banyak yang menjadi perintis kemerdekaan Indonesia.

Di Haramain, dia juga berguru kepada puluhan ulama dengan ragam keilmuan yang berbeda. Dengan penguasaan mumpuni di bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, dan tasawuf, As-Sinkili masih menyempatkan diri mengajar di tanah Arab ini sebelum kemudian dirinya kembali ke Aceh dan mengabdikan diri sebagai salah satu ulama kerajaan.

“Datang dari wilayah pinggiran dunia muslim, As-Sinkili memasuki inti jaringan ulama dan dapat merebut hati sejumlah ulama utama di Haramain. Pendidikannya tak dapat disangkal lagi, sangat lengkap: dari syariat, fiqih, hadits, hingga disiplin-disiplin eksoteris lainnya hingga ilmu kalam dan tasawuf atau ilmu-ilmu esoteris. Karier dan karya-karyanya setelah ia kembali ke Nusantara merupakan sejarah dari usaha-usahanya yang dilakukan secara sadar untuk menanamkan kuat-kuat keselarasan antara syariat dan tasawuf.”

 

Tinggalkan komentar